Senin, 17 Desember 2012

Tips Diabetes: 4 Tips Mencegah & Memperlambat Kerusakan Ginjal

Penderita diabetes yang sudah lama, biasanya akan mengalami berbagai komplikasi.
Salah satu komplikasi diabetes yang sering muncul adalah kerusakan ginjal.
Secara umum, kerusakan ginjal terjadi setelah 15-25 tahun, dan jarang terjadi dalam 10 tahun pertama diabetes.
Seseorang yang mengalami kerusakan ginjal karena diabetes pada awalnya akan mengalami kebocoran protein darah (albumin) dalam jumlah kecil melalui urin.
Tahap pertama disebut mikroalbuminuria CKD (Chronic Kidney Disease). Fungsi penyaringan ginjal biasanya tetap normal selama periode ini.
Selang beberapa tahun kemudian, akibat progres dari penyakit, kebocoran albumin dalam urin akan lebih banyak. Tahap ini disebut macroalbuminuria atau proteinuria.
Seiring jumlah albumin yang meningkat dalam urin, fungsi penyaringan ginjal biasanya mulai menurun. Akibat dari kerusakan ginjal yang semakin parah, tekanan darah akan ikut naik.
Tips Mencegah dan Memperlambat Kerusakan Ginjal
Berikut adalah 4 tips yang bisa dilakukan untuk mencegah dan memperlambat kerusakan ginjal:
1. Obat Tekanan Darah
Para ilmuwan telah membuat kemajuan besar dalam pengembangan metode yang memperlambat onset dan progres penyakit ginjal pada penderita diabetes.
Obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal secara signifikan.
Dua jenis obat, angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin receptor blocker (ARB), telah terbukti efektif dalam memperlambat perkembangan penyakit ginjal.
Beberapa orang mungkin memerlukan dua atau lebih obat untuk mengontrol tekanan darah mereka. Selain penghambat ACE atau ARB, obat diuretik juga dapat berguna.
Beta blockers, calcium channel blockers, dan obat-obatan tekanan darah lainnya mungkin diperlukan juga.
Contoh dari ACE inhibitor efektif adalah lisinopril (Prinivil, Zestril). Dokter biasanya memberikan resep ini untuk mengobati penyakit ginjal yang terjadi karena diabetes.
Selain untuk menurunkan tekanan darah, lisinopril juga dapat melindungi glomerulus ginjal, sedangkan ACE inhibitor berfungsi menurunkan proteinuria dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.
Contoh dari ARB efektif adalah losartan (Cozaar), yang berguna untuk melindungi fungsi ginjal dan menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
2. Diet Rendah Protein
Pada penderita diabetes dan gagal ginjal, konsumsi protein yang berlebihan akan berbahaya.
Para ahli merekomendasikan penderita gagal ginjal harus mengonsumsi protein sesuai dengan diet yang direkomendasikan dan sebaiknya menghindari diet tinggi protein.
Untuk orang dengan fungsi ginjal yang sudah sangat berkurang, diet rendah protein dapat membantu menunda gagal ginjal.
Namun, siapapun yang melakukan diet rendah protein harus berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memastikan nutrisi yang cukup.
3. Manajemen Intensif Glukosa Darah
Obat anti hipertensi dan diet rendah protein dapat memperlambat munculnya CKD. Alternatif pengobatan ketiga dikenal sebagai manajemen intensif glukosa darah atau kontrol glikemik.
Metode ini cukup menjanjikan bagi penderita diabetes, terutama bagi mereka yang berada pada tahap awal CKD.
Tubuh manusia yang normal akan mengonversi makanan menjadi glukosa, gula sederhana yang merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Untuk masuk ke dalam sel, glukosa memerlukan bantuan insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas.
Ketika seseorang tidak cukup memproduksi insulin atau tubuh tidak merespon insulin yang ada, maka tubuh tidak dapat memroses glukosa, sehingga akan menumpuk dalam aliran darah. Tingginya kadar glukosa akan mengakibatkan terjadinya diabetes.
Manajemen intensif glukosa darah adalah pengobatan yang bertujuan untuk menjaga kadar glukosa darah mendekati normal.
Hal ini mencakup cek glukosa darah secara rutin, menggunakan insulin berdasarkan asupan makanan dan aktivitas fisik, mengikuti diet, melakukan aktivitas fisik, dan berkonsultasi dengan tim perawatan kesehatan secara teratur.
Beberapa orang menggunakan pompa insulin untuk menyuplai insulin sepanjang hari. Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek menguntungkan pengelolaan intensif glukosa darah.
Penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir telah menetapkan bahwa program apapun yang berfungsi dalam menurunkan kadar glukosa darah akan bermanfaat bagi pasien yang berada pada tahap awal CKD.
4. Dialisis dan Transplantasi
Penderita diabetes yang mengalami gagal ginjal harus menjalani dialisis atau bisa saja melakukan transplantasi ginjal.
Pada tahun 1970-an, dokter umumnya enggan merekomendasikan penderita diabetes untuk melakukan dialisis maupun transplantasi, karena mereka merasa kerusakan yang disebabkan oleh diabetes akan mengurangi manfaat dari perawatan ini.
Saat ini, karena kontrol dan tingkat ketahanan hidup yang lebih baik setelah pengobatan diabetes, dokter tidak lagi ragu untuk menawarkan dialisis maupun transplantasi ginjal bagi penderita diabetes.
Saat ini, tingkat harapan hidup transplantasi ginjal yang dilakukan pada penderita diabetes hasilnya sama dengan tingkat harapan hidup transplantasi ginjal pada orang tanpa diabetes.[]

Dialisis Pada Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah.(1)
Penyebab utama seseorang mengalami gagal ginjal terminal hingga membutuhkan pelayanan hemodialisis adalah akibat penyakit diabetes dan hipertensi. Jika penyakit diabetes dan hipertensi dikontrol dengan baik melalui pengobatan teratur maka gagal ginjal terminal akan dapat dicegah sedini mungkin atau bisa diperlambat. Gagal ginjal terminal dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang sering menyebabkan kematian. Pada diabetes, terjadi gangguan pengolahan glukosa darah oleh tubuh, yang menyebabkan kerusakan pada ginjal dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal terminal disebut dengan nefropati diabetik.(2 )
Gagal ginjal terminal sering ditemukan, menurut data dari The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2009 prevalensinya sekitar 10-13 %. Di Amerika Serikat jumlahnya mencapai 25 juta orang, di Indonesia diperkirakan 12,5 % atau sekitar 18 juta orang.(3) Sama dengan diabetes insidennya meningkat yaitu 20 juta orang di Amerika Serikat dan menurut WHO tahun 2005 prevalensi Diabetes Melitus tipe2 mencapai 300 juta diseluruh dunia.(2) Diabetes sering berhubungan dengan gagal ginjal terminal, diperkirakan 45 % pasien yang menjalankan hemodialisis adalah pasien diabetes sebagai penyebab gagal ginjal terminal, dan pasien gagal ginjal terminal 15-23 % adalah pasien diabetes.(4.5)
Hubungan diabetes melitus dengan kelainan ginjal sudah lama diketahui. Kimmelstiel dan Wilson tahun 1936 pertama kali melaporkan glomerulosklerosis noduler yang khas untuk diabetes melitus.(6 )
Nefropati diabetik akan menyebabkan gagal ginjal terminal di Amerika Serikat, Jepang dan Eropah. Menurut The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2001 dari 82.692 pasien yang menjalani terapi hemodialisis atau tranplantasi ginjal, 46,2% pasien dengan diabetes.(7)
Pasien diabetes yang mengalami gagal ginjal terminal harus menjalani terapi pengganti ginjal yaitu berupa dialisis (hemodialisis dan peritoneal dialisis) atau tranplantasi ginjal. Pasien diabetes yang menjalani hemodialisis merupakan kelompok besar pasien gagal ginjal terminal di negara berkembang, yang meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian dibandingkan pasien hemodialisis yang nondiabetes. Usia lanjut pada saat awal hemodialisis dan sering disertai penyakit mikro dan makrovaskular meningkatkan komplikasi dan kematian pada saat hemodialisis.(8)
Penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis harus agresif, cepat dan multidisiplin dan sering melibatkan banyak ahli. Penyakit vaskuler perifer, kardiovaskuler, serebrovaskular, dan komplikasi yang berhubungan dengan hemodialisis menambah angka kesakitan dan angka kematian pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis. Tinjauan kepustakaan ini dibuat agar penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis lebih optimal sehingga angka kematian dapat diturunkan.