Senin, 23 November 2015

Lari Pagi Dapat Menyembuhkan Diabetes? Bisa Dicoba...

Olahraga adalah salah satu upaya agar tubuh menjadi lebih bugar. Keluarnya keringat membantu tubuh untuk lebih meningkatkan metabolismenya. Para penderita diabetes biasanya memiliki metabolisme yang rendah yang dibawa dari kebiasaan sebelumnya, jadi untuk menghindari itu perlu dibiasakan berolahraga.
Olahraga yang paling aman, ringan, murah dan paling mudah adalah berlari-lari (jogging). Walaupun hanya murah dan mudah, jogging memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah membakar lemak dan membakar gula tubuh yang akan mnghasilkan energi dan menurunkan gula darah. Selain itu, jogging juga memacu jantung untuk bekerja lebih keras lagi dari biasanya.

Waktu yang paling tepat untuk berolah raga khususnya umtuk mencegah diabetes adalah di pagi hari, sekitar pukul enam hingga pukul sembilan, karena udara bumi masih tidak terlalu banyak tercampur oleh berbagai polutan. Selain iu cahaya matahari pada waktu-waktu itu sangat berguna untuk mengubah provitamin D di dalam tubuh menjadi vitamin D. Tak hanya itu, jika berolahraga pada pagi hari, saat keadaan organ-organ tubuh kita masih sangat sehat, juga waktu yang efektif agar oksigen lebih terserap lebih banyak dan lebih mudah bernafas. Lari pagi juga dapat menjadi pilihan karena sebagian orang masih tidak banyak beraktifitas pada waktu-waktu itu. 

Lari pagi juga dimaksudkan untuk mempersiapkan tubuh untuk menjalani aktifitas-aktifitas selanjutnya. Lari pagi juga tidak boleh dilakukan terlali pagi, maksudnya saat fajar. Karena pada waktu itu tingkat uap air yang ada di udara sangat tinggi, yang jika banyak dihirup akan menimbulkan penyakit paru-paru basah. Juga tidak boleh dilakukan terlalu siang, karena suhu di Indonesia sangat tinggi sekitar 24-34 oC yang dapat menyebabkan tubuh bekerja terlalu keras. Dan mengurangi kadar gula dan kalori di dalam darah terlalu banyak hingga berpotensi mengakibatkan diabetes

selengkapnya:

Minggu, 08 November 2015

10 makanan yang bisa menyembuhkan prankeas

1. Brokoli
2. Bawang Putih
3. Anggur Merah
4. Blueberry dan Cherry
5. Jamur "Red Reishi"
6. Kentang Manis
7. Tomat
8. Bayam
9. Tahu
10. Yogurt Alami

http://www.healthandhealthytips.com/10-foods-that-help-heal-the-pancreas/

Jumat, 30 Oktober 2015

ada 3 kelompok besar pasien penyakit diabetes

Diabetes tipe 2 tidak mempengaruhi setiap orang yang memiliki itu dengan cara yang persis sama, tapi sekarang, sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang dengan diabetes tipe 2 dapat dibagi menjadi kelompok yang berbeda beberapa.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan "big data" pendekatan untuk melihat orang-orang dengan diabetes tipe 2; ilmuwan menyisir melalui catatan medis dari sekitar 2.500 orang dengan kondisi tersebut, melihat sejumlah besar data pada individu genetik informasi, kesehatan dan gejala. Para ilmuwan menemukan bahwa sebenarnya ada tiga kelompok orang dengan diabetes tipe 2, masing-masing dengan satu set yang berbeda dari masalah yang terkait dengan penyakit.

Temuan menunjukkan "ada statistik perbedaan yang berarti antara pasien," kata Joel Dudley, pemimpin studi dan direktur informatika biomedis di Icahn School of Medicine di Rumah Sakit Mount Sinai di New York. Sekitar 29 juta orang di Amerika Serikat memiliki diabetes, dan 90 sampai 95 persen dari orang-orang memiliki tipe 2, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.


Pada orang dengan diabetes tipe 2, tubuh telah kehilangan kemampuannya untuk memproduksi insulin atau menggunakannya secara efisien, yang menyebabkan kadar gula yang tinggi dalam darah. Risiko mengembangkan kondisi umumnya meningkat dengan usia, dan lebih umum di antara orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, serta orang-orang yang tidak mendapatkan cukup latihan. [9 Kebiasaan Sehat Anda Bisa Dilakukan di 1 Menit (atau kurang)]

Untuk menganalisis perbedaan antara pasien, para peneliti diperlakukan setiap pasien sebagai "node," atau sambungan dalam jaringan. Para ilmuwan terhubung pasien satu sama lain berdasarkan kesamaan mereka satu sama lain. Sebagai contoh, seorang pasien perempuan dengan indeks massa tubuh tinggi dan penyakit ginjal akan sangat terhubung ke pasien lain dengan sifat-sifat, dan kurang kuat terhubung dengan pasien yang memiliki karakteristik yang berbeda.

"Kami melihat di luar apa yang mendefinisikan penyakit," kata Dudley. Para peneliti ingin menggunakan semua informasi yang tersedia di pasien, katanya.

Mengobati kesamaan antara pasien sebagai koneksi jaringan memungkinkan para peneliti untuk "cluster" individu-individu dalam kelompok yang berbeda.

Para peneliti menemukan bahwa pasien dalam satu kelompok (yang para peneliti disebut subtipe 1) cenderung lebih muda, dengan risiko yang lebih tinggi dari obesitas, penyakit ginjal dan masalah retina yang dapat menyebabkan kebutaan, dibandingkan dengan orang di luar kelompok ini. Mereka juga memiliki jumlah sel darah putih rendah.

Kelompok kedua (subtipe 2) menunjukkan kecenderungan yang lebih besar untuk kedua penyakit kanker dan jantung, tetapi juga cenderung memiliki BMI yang lebih rendah - mereka kurang cenderung menjadi gemuk. Kelompok ketiga (subtipe 3) menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dari penyakit jantung juga, tetapi juga memiliki risiko lebih tinggi penyakit mental dan alergi.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah temuan dapat dikonfirmasi dalam kelompok lain pasien. Tetapi jika pengelompokan ini terus benar, mereka dapat membantu dokter menawarkan pasien mereka cara yang lebih spesifik untuk mengelola kondisi mereka. "Jika Anda berada di kelompok-kanker yang berisiko tinggi, mungkin aku memotong setengah waktu antara [kanker] pemutaran," kata Dudley.

Para peneliti juga menemukan bahwa profil genetik pasien mengungkapkan ribuan varian genetik yang disebut polimorfisme nukleotida tunggal, atau SNP, dalam ratusan gen. Mereka varian yang serupa di antara orang-orang dalam masing-masing tiga subtipe.

Dudley mengatakan bahwa ini menunjukkan pengelompokan pasien diabetes tercermin perbedaan nyata dalam kondisi mereka, dan bahkan menyarankan bahwa tes genetik bisa satu hari acara yang subtipe pasien memiliki.

sumber : http://www.livescience.com/

Minggu, 02 Agustus 2015

Food Combining Bagi Diabetesi

T : Tentang diabetes
J : (Erikar Lebang) Kalau pankreasnya sudah rusak parah, pilihan terbaik adalah dengan membatasi gula dalam ragam bentuk, even fructose. Buah sedang gula seperti apel, jambu air, pir adalah pilihan populer.
Yang dilupakan: penderita diabetes, sering didoktrin menghindari gula sedemikian rupa. Tapi mereka dibiarkan mengkonsumsi protein hewani dalam konsentrasi tinggi (yang ujung-ujungnya juga membebani pankreas), diberi alternatif gula tiruan (yang membebani liver dan ginjal), minum teh (walau tanpa gula tapi mendehidrasi tubuh plus segudang masalah lain) dan segudang kebiasaan buruk tanpa sadar lain. Makanya muncul pemeo “diabetes tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol
Pemeo itu jelas jadi mentah saat bertemu dengan pelaku Foodcombining yang baik. Berita baiknya, kalau semua sudah normal, konsumsi buah bisa dilakukan seperti sediakala (Andang Gunawan)
Hindari semua refined carbohydrate, kalau bisa hindari juga semua produk hewani terutama yang tinggi lemak, pakai minyak seperlunya. Hindari makanan yang mengandung lemak trans. Sebetulnya utk diabetes nomor satu minimize makanan tinggi lemak. Makanan karbohidrat dikontrol aja, pilih yang indeks glikemiknya rendah.(Dr Rozalina Loebis)
Mengenai Diabetes Retinopathy ini memang penyakit yang irreversible. Maklum yang diserang ialah retina yang notabene ialah sel syaraf yg memang sulit regenerasi Karena itu di diskusi beberapa waktu yang lalu, saya selalu tekankan pencegahan diabetik retinopathy ini. Tidak semua orang diabetes mengalami diabetik retinopathy,tergantung regulasi gula darah.
Salah satu pencegahan melambungnya gula darah ya dengan cara pengaturan pola makan seperti Food Combining ini. Diabetes Retinopathy ini sifatnya irreversible, maka penting penting penting sekali pencegahan. Karena bila gula darah sempat tinggi dan sebabkan Diabetik Retinopathy, dan lalu gula darah sudah “normal”, maka efek kerusakan yg ditimbulkan ini menetap Karena itu sekali lagi yang penting pencegahan…dengan FC tentunya.
Tentang Diabetik Retinopathy sudah saya tulis di www(dot)rozalinaloebis(dot)wordpress(dot)com Monggo kalau berkenan dibaca-baca..
https://www.facebook.com/groups/FoodCombiningIndonesia/permalink/473648576068008/

Jumat, 19 Juni 2015

Tips Bagi Penderita Diabetes yang Ingin Menunaikan Ibadah Puasa

Penderita diabetes atau sering disebutdiabetesi juga tak lepas dari kewajibanmenunaikan ibadah puasa. Akan tetapi dengan penyakit yang diderita, ada risiko gula darah yang turun drastis dan membahayakan para diabetesi sendiri. Untuk tetap sehat dan kuat berpuasa, memang ada beberapa tips yang disarankan oleh pihak medis.
Salah satunya adalah hasil studi yang dikemukakan dalam Konferensi American Diabetes Association (ADA) di Boston. Disajikan oleh Dr Mahmoud Ibrahim selaku Ahli Endokrinologi dan Direktur Pusat Pendidikan Diabetes di McDonough, Georgia, AS, ia memaparkan perihal cara sehat berpuasa bagi penderita diabetes, terutama tipe 2.
Pertama sebaiknya diabetesi melakukan pengecekan kadar gula darah secara rutin, untuk memantau kondisi gula darah mereka. Sebelum memasuki bulan puasa,cek gula darah. Juga saat akan sahur, sebelum buka puasa, dan setelah berbuka.
Lalu menyediakan insulin bagi penderita yang terbiasa memakai insulin, sebelum sahur dan sebelum berbuka puasa. Minum obat yang sudah ditentukan oleh dokter. Jika kadar gula darah menurun drastis segera batalkan puasa Anda.
Mengatur menu sahur dan berbuka yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi selama puasa. Membiasakan diet sehat dengan menu buah dan sayur, olahraga ringan, dan konsultasi dengan dokter terkait keputusan puasa Anda.
Namun bagi penderita diabetes yang sudah berisiko tinggi dan dokter melarang untuk melakukan puasa, sebaiknya jangan memaksakan diri. Anda bisa mengukur kadar kemampuan sendiri dalam beribadah, dan memperbanyak ibadah yang lain.

Sumber :sidomi.com/389698/tips-bagi-penderita-diabetes-yang-ingin-menunaikan-ibadah-puasa/