Senin, 17 Desember 2012

Tips Diabetes: 4 Tips Mencegah & Memperlambat Kerusakan Ginjal

Penderita diabetes yang sudah lama, biasanya akan mengalami berbagai komplikasi.
Salah satu komplikasi diabetes yang sering muncul adalah kerusakan ginjal.
Secara umum, kerusakan ginjal terjadi setelah 15-25 tahun, dan jarang terjadi dalam 10 tahun pertama diabetes.
Seseorang yang mengalami kerusakan ginjal karena diabetes pada awalnya akan mengalami kebocoran protein darah (albumin) dalam jumlah kecil melalui urin.
Tahap pertama disebut mikroalbuminuria CKD (Chronic Kidney Disease). Fungsi penyaringan ginjal biasanya tetap normal selama periode ini.
Selang beberapa tahun kemudian, akibat progres dari penyakit, kebocoran albumin dalam urin akan lebih banyak. Tahap ini disebut macroalbuminuria atau proteinuria.
Seiring jumlah albumin yang meningkat dalam urin, fungsi penyaringan ginjal biasanya mulai menurun. Akibat dari kerusakan ginjal yang semakin parah, tekanan darah akan ikut naik.
Tips Mencegah dan Memperlambat Kerusakan Ginjal
Berikut adalah 4 tips yang bisa dilakukan untuk mencegah dan memperlambat kerusakan ginjal:
1. Obat Tekanan Darah
Para ilmuwan telah membuat kemajuan besar dalam pengembangan metode yang memperlambat onset dan progres penyakit ginjal pada penderita diabetes.
Obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dapat memperlambat perkembangan penyakit ginjal secara signifikan.
Dua jenis obat, angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin receptor blocker (ARB), telah terbukti efektif dalam memperlambat perkembangan penyakit ginjal.
Beberapa orang mungkin memerlukan dua atau lebih obat untuk mengontrol tekanan darah mereka. Selain penghambat ACE atau ARB, obat diuretik juga dapat berguna.
Beta blockers, calcium channel blockers, dan obat-obatan tekanan darah lainnya mungkin diperlukan juga.
Contoh dari ACE inhibitor efektif adalah lisinopril (Prinivil, Zestril). Dokter biasanya memberikan resep ini untuk mengobati penyakit ginjal yang terjadi karena diabetes.
Selain untuk menurunkan tekanan darah, lisinopril juga dapat melindungi glomerulus ginjal, sedangkan ACE inhibitor berfungsi menurunkan proteinuria dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.
Contoh dari ARB efektif adalah losartan (Cozaar), yang berguna untuk melindungi fungsi ginjal dan menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.
2. Diet Rendah Protein
Pada penderita diabetes dan gagal ginjal, konsumsi protein yang berlebihan akan berbahaya.
Para ahli merekomendasikan penderita gagal ginjal harus mengonsumsi protein sesuai dengan diet yang direkomendasikan dan sebaiknya menghindari diet tinggi protein.
Untuk orang dengan fungsi ginjal yang sudah sangat berkurang, diet rendah protein dapat membantu menunda gagal ginjal.
Namun, siapapun yang melakukan diet rendah protein harus berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memastikan nutrisi yang cukup.
3. Manajemen Intensif Glukosa Darah
Obat anti hipertensi dan diet rendah protein dapat memperlambat munculnya CKD. Alternatif pengobatan ketiga dikenal sebagai manajemen intensif glukosa darah atau kontrol glikemik.
Metode ini cukup menjanjikan bagi penderita diabetes, terutama bagi mereka yang berada pada tahap awal CKD.
Tubuh manusia yang normal akan mengonversi makanan menjadi glukosa, gula sederhana yang merupakan sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Untuk masuk ke dalam sel, glukosa memerlukan bantuan insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas.
Ketika seseorang tidak cukup memproduksi insulin atau tubuh tidak merespon insulin yang ada, maka tubuh tidak dapat memroses glukosa, sehingga akan menumpuk dalam aliran darah. Tingginya kadar glukosa akan mengakibatkan terjadinya diabetes.
Manajemen intensif glukosa darah adalah pengobatan yang bertujuan untuk menjaga kadar glukosa darah mendekati normal.
Hal ini mencakup cek glukosa darah secara rutin, menggunakan insulin berdasarkan asupan makanan dan aktivitas fisik, mengikuti diet, melakukan aktivitas fisik, dan berkonsultasi dengan tim perawatan kesehatan secara teratur.
Beberapa orang menggunakan pompa insulin untuk menyuplai insulin sepanjang hari. Sejumlah penelitian telah menunjukkan efek menguntungkan pengelolaan intensif glukosa darah.
Penelitian yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir telah menetapkan bahwa program apapun yang berfungsi dalam menurunkan kadar glukosa darah akan bermanfaat bagi pasien yang berada pada tahap awal CKD.
4. Dialisis dan Transplantasi
Penderita diabetes yang mengalami gagal ginjal harus menjalani dialisis atau bisa saja melakukan transplantasi ginjal.
Pada tahun 1970-an, dokter umumnya enggan merekomendasikan penderita diabetes untuk melakukan dialisis maupun transplantasi, karena mereka merasa kerusakan yang disebabkan oleh diabetes akan mengurangi manfaat dari perawatan ini.
Saat ini, karena kontrol dan tingkat ketahanan hidup yang lebih baik setelah pengobatan diabetes, dokter tidak lagi ragu untuk menawarkan dialisis maupun transplantasi ginjal bagi penderita diabetes.
Saat ini, tingkat harapan hidup transplantasi ginjal yang dilakukan pada penderita diabetes hasilnya sama dengan tingkat harapan hidup transplantasi ginjal pada orang tanpa diabetes.[]

Dialisis Pada Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah.(1)
Penyebab utama seseorang mengalami gagal ginjal terminal hingga membutuhkan pelayanan hemodialisis adalah akibat penyakit diabetes dan hipertensi. Jika penyakit diabetes dan hipertensi dikontrol dengan baik melalui pengobatan teratur maka gagal ginjal terminal akan dapat dicegah sedini mungkin atau bisa diperlambat. Gagal ginjal terminal dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang sering menyebabkan kematian. Pada diabetes, terjadi gangguan pengolahan glukosa darah oleh tubuh, yang menyebabkan kerusakan pada ginjal dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal terminal disebut dengan nefropati diabetik.(2 )
Gagal ginjal terminal sering ditemukan, menurut data dari The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2009 prevalensinya sekitar 10-13 %. Di Amerika Serikat jumlahnya mencapai 25 juta orang, di Indonesia diperkirakan 12,5 % atau sekitar 18 juta orang.(3) Sama dengan diabetes insidennya meningkat yaitu 20 juta orang di Amerika Serikat dan menurut WHO tahun 2005 prevalensi Diabetes Melitus tipe2 mencapai 300 juta diseluruh dunia.(2) Diabetes sering berhubungan dengan gagal ginjal terminal, diperkirakan 45 % pasien yang menjalankan hemodialisis adalah pasien diabetes sebagai penyebab gagal ginjal terminal, dan pasien gagal ginjal terminal 15-23 % adalah pasien diabetes.(4.5)
Hubungan diabetes melitus dengan kelainan ginjal sudah lama diketahui. Kimmelstiel dan Wilson tahun 1936 pertama kali melaporkan glomerulosklerosis noduler yang khas untuk diabetes melitus.(6 )
Nefropati diabetik akan menyebabkan gagal ginjal terminal di Amerika Serikat, Jepang dan Eropah. Menurut The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2001 dari 82.692 pasien yang menjalani terapi hemodialisis atau tranplantasi ginjal, 46,2% pasien dengan diabetes.(7)
Pasien diabetes yang mengalami gagal ginjal terminal harus menjalani terapi pengganti ginjal yaitu berupa dialisis (hemodialisis dan peritoneal dialisis) atau tranplantasi ginjal. Pasien diabetes yang menjalani hemodialisis merupakan kelompok besar pasien gagal ginjal terminal di negara berkembang, yang meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian dibandingkan pasien hemodialisis yang nondiabetes. Usia lanjut pada saat awal hemodialisis dan sering disertai penyakit mikro dan makrovaskular meningkatkan komplikasi dan kematian pada saat hemodialisis.(8)
Penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis harus agresif, cepat dan multidisiplin dan sering melibatkan banyak ahli. Penyakit vaskuler perifer, kardiovaskuler, serebrovaskular, dan komplikasi yang berhubungan dengan hemodialisis menambah angka kesakitan dan angka kematian pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis. Tinjauan kepustakaan ini dibuat agar penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis lebih optimal sehingga angka kematian dapat diturunkan.

Selasa, 20 November 2012

Peringatan Hari Diabetes Dunia 14 November

WDD (World Diabetes Day) merupakan acara tahunan yang diadakan oleh semua negara di seluruh dunia setiap tanggal 14 November untuk memperingati Hari Diabetes Dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang memperingati acara ini setiap tahunnya. Tahun ini acara WDD di Indonesia akan diadakan pada tanggal 11 November 2012 di Senayan Plaza Barat. Tujuan Diadakannya acara ini adalah untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan dan penanggulangan Diabetes di Indonesia. 
Tahukah Anda sekitar 4.73% dari penduduk Indonesia atau sekitar 7 juta orang diperkirakan menderita diabetes? Berdasarkan Diabetes Atlas 5th Edition diperkirakan angka ini akan bertambah menjadi 5,95% di tahun 2030. Jumlah peningkatan penderita diabetes ini disebabkan pola hidup masyarakat yang cenderung tidak sehat, seperti pola makan yang tidak sehat dan kurangnya olah raga.
Untuk membantu masyarakat mengenal pola makan sehat dengan program gerakan 3-J (Jumlah, Jenis, dan Jadwal) yang berkaitan erat dengan pola makan untuk menjaga kadar gula darah agar jauh dari resiko diabetes atau tetap hidup sehat wakaupun sudah menderita diabetes. Gerakan 3-J mengajak kita untuk senantiasa melakukan pola makan yang sehat dan ideal. Mudah saja, "J" yang ke-1 (pertama)  yaitu dengan menghitung Jumlah kalori ideal yang harus dikonsumsi oleh tubuh, kaiatannya erat dengan tinggi badan serta aktivitas fisik yang biasa dilakukan. "J" yang kedua adakah memperhatikan Jenis makanan yang dikonsumsi. Komposisi gizi yang seimbang akan menunjang pola makan yang sehat. Jenis makanan yang sehat yaitu mengandung 45-65% karbohidrat, 10-20% protein, 20-25% lemak, serta vitamin dan mineral. "J" yang ke-tiga atau terakhir adalah mengatur Jadwal makan dalam sehari. Jadwal makan yang ideal adalah 3 kali makan besar diselingi dengan 3 kali makan kecil termasuk sarapan pagi.
Dengan diadakannya edukasi POLA MAKAN SEHAT 3-J tersebut diharapkan masyarakat Indonesia dapat menerapkan pola makan sehat dengan pola 3-J disertai dengan olah raga yang teratur sehingga kadar gula darah senantiasa terjaga untuk hidup sehat dan optimal.
 sumber: advetorial kedaulatan rakyat
 

Kamis, 20 September 2012

penyebab diabetes

Berikut adalah beberapa hal kebiasaan hidup sehari-hari yang bisa menjadi penyebab diabetes:
1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
Pengganti: Buah potong segar.
4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.
Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.
Solusi: Bersepeda ke kantor.
6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.
7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.
Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.
8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.
Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.
9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.
Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.
10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Pengganti: Jus dingin tanpa gula.

Sumber : Prevention

Minggu, 09 September 2012

makalah tentang diabetes




Diabetes mellitus, DM (bahasa Yunani: διαβαίνειν, diabaínein, tembus atau pancuran air) (bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing gula adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:



Klasifikasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes mellitus berdasarkan perawatan dan simtoma:
1.     Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes mellitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.
2.     Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin
3.     Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan gestational diabetes mellitus, GDM. dan menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:
4.     Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
5.     Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
6.     Not insulin requiring diabetes.





Diabetes mellitus tipe 1

Suatu keadaan dimana tubuh sudah sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Sehingga penderita penyakit diabetes harus menggunakan suntikan insulin dalam mengatur gula darahnya. Sebagian besar penderita penyakit diabetes ini adalah anak-anak & remaja. Diabetes mellitus tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini IDDM tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan diet maupun olah raga. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".

Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan memengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah, seperti "frequent hypoglycemic events". Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.


Diabetes mellitus tipe 2

Penyakit diabetes ini terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin yang mencukupi atau karena insulin tidak dapat digunakan dengan baik (resistensi insulin). Tipe penyakit diabetes ini merupakan yang terbanyak diderita saat ini (90% lebih), sering terjadi pada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, gemuk dan mempunyai riwayat penyakit diabetes dalam keluarga. Diabetes mellitus tipe 2 (bahasa Inggris: adult-onset diabetes, obesity-related diabetes, non-insulin-dependent diabetes mellitus, NIDDM) merupakan tipe diabetes mellitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen, termasuk yang mengekspresikan disfungsi sel β, gangguan sekresi hormon insulin, resistansi sel terhadap insulin yang disebabkan oleh disfungsi GLUT10 dengan kofaktor hormon resistin yang menyebabkan sel jaringan, terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta RBP4 yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati. Mutasi gen tersebut sering terjadi pada kromosom 19 yang merupakan kromosom terpadat yang ditemukan pada manusia.

Pada NIDDM ditemukan ekspresi SGLT1 yang tinggi, rasio RBP4 dan hormon resistin yang tinggi, peningkatan laju metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis pada hati, penurunan laju reaksi oksidasi dan peningkatan laju reaksi esterifikasi pada hati. NIDDM juga dapat disebabkan oleh dislipidemia, lipodistrofi,dan sindrom resistansi insulin.

Pada tahap awal kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Hiperglisemia dapat diatasi dengan obat anti diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines ( nya suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. Obesitas ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis. Faktor lain meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walaupun di dekade yang terakhir telah terus meningkat mulai untuk memengaruhi anak remaja dan anak-anak.

Diabetes tipe 2 dapat terjadi tanpa ada gejala sebelum hasil diagnosis. Diabetes tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (olahraga), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg ( 10 sampai 15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk.

Sebuah zat penghambat dipeptidyl peptidase 4 yang disebut sitagliptin, baru-baru ini diperkenankan untuk digunakan sebagai pengobatan diabetes mellitus tipe 2. Seperti zat penghambat dipeptidyl peptidase 4 yang lain, sitagliptin akan membuka peluang bagi perkembangan sel tumor maupun kanker. Sebuah fenotipe sangat khas ditunjukkan oleh NIDDM pada manusia adalah defisiensi metabolisme oksidatif di dalam mitokondria pada otot lurik. Sebaliknya, hormon tri-iodotironina menginduksi biogenesis di dalam mitokondria dan meningkatkan sintesis ATP sintase pada kompleks V, meningkatkan aktivitas sitokrom c oksidase pada kompleks IV, menurunkan spesi oksigen reaktif, menurunkan stres oksidatif, sedang hormon melatonin akan meningkatkan produksi ATP di dalam mitokondria serta meningkatkan aktivitas respiratory chain, terutama pada kompleks I, III dan IV. Bersama dengan insulin, ketiga hormon ini membentuk siklus yang mengatur fosforilasi oksidatif mitokondria di dalam otot lurik. Di sisi lain, metalotionein yang menghambat aktivitas GSK-3beta akan mengurangi risiko defisiensi otot jantung pada penderita diabetes.

Simtoma yang terjadi pada NIDDM dapat berkurang dengan dramatis, diikuti dengan pengurangan berat tubuh, setelah dilakukan bedah bypass usus. Hal ini diketahui sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon inkretin, namun para ahli belum dapat menentukan apakah metoda ini dapat memberikan kesembuhan bagi NIDDM dengan perubahan homeostasis glukosa.

Pada terapi tradisional, flavonoid yang mengandung senyawa hesperidin dan naringin, diketahui menyebabkan:

Sedang naringin sendiri, menurunkan transkripsi mRNA fosfoenolpiruvat karboksikinase dan glukosa-6 fosfatase di dalam hati.
Hesperidin merupakan senyawa organik yang banyak ditemukan pada buah jenis jeruk, sedang naringin banyak ditemukan pada buah jenis anggur.


Diabetes mellitus tipe 3

Diabetes mellitus gestasional (bahasa Inggris: gestational diabetes, insulin-resistant type 1 diabetes, double diabetes, type 2 diabetes which has progressed to require injected insulin, latent autoimmune diabetes of adults, type 1.5" diabetes, type 3 diabetes, LADA) atau diabetes melitus yang terjadi hanya selama kehamilan dan pulih setelah melahirkan, dengan keterlibatan interleukin-6 dan protein reaktif C pada lintasan patogenesisnya. GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita GDM bertahan hidup.

Diabetes melitus pada kehamilan terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer dan dapat meningkat maupun menghilang setelah melahirkan. GDM dapat disembuhkan, namun memerlukan pengawasan medis yang cermat selama masa kehamilan.

Meskipun GDM bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu. Resiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia (berat bayi yang tinggi/diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka. Peningkatan hormon insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan. Hyperbilirubinemia dapat terjadi akibat kerusakan sel darah merah. Pada kasus yang parah, kematian sebelum kelahiran dapat terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular. Induksi kehamilan dapat diindikasikan dengan menurunnya fungsi plasenta. Operasi sesar dapat akan dilakukan bila ada tanda bahwa janin dalam bahaya atau peningkatan resiko luka yang berhubungan dengan makrosomia, seperti distosia bahu.


Gejala penyakit diabetes
Penting bagi kita untuk mengetahui gejala diabetes dan penanganan awal darigejala diabetes tersebut sehingga serangan penyakit diabetes yang lebih serius bisa kita hindari.
Beberapa gejala diabetes yang perlu anda ketahui adalah
  • air kencing yang terlalu banyak,
  •  rasa lapar dan haus yang berlebihan,
  • penurunan berat badan yang mendadak atau abnormal,
  • penglihatan agak kabur, borok atau luka yang susah sembuh,
  • terjadinya infeksi atau peradangan yang berulang-ulang, sakit kepala, kelelahan, gatal dan kulit kering.

Secara ilmiah, penyebab penyakit diabetes dapat dikarenakan kurangnya produksi zat insulin atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap zat insulin.

Berikut penyebab penyakit diabetes dalam kehidupan sehari-hari :
1.  Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.
2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.




3. Suka ngemil
Biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi.
Pengganti: Buah potong segar.
4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis.
Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.
5. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.


Pencegahan penyakit diabetes
  • Perhatikan Berat Badan.
  •  Perhatikan gaya hidup dan pola makan
  • Lakukan aktifitas dan jangan malas
  • Perhatikan kondisi tubuh anda selalu
  • Ketahui Riwayat Keturunan penyakit diabetes

Penderita penyakit diabetes tidak perlu takut karena resiko timbulnya komplikasi diabetik dapat diantisipasi dengan jalan mengontrol dan mengendalikan kadar gula darah dalam jangka panjang. Pengendalian kadar gula darah secara ketat akan memperbaiki pula kadar trigliserida dan kolesterol pada penderita penyakit diabetes sehingga faktor risiko terkena komplikasi penyakit diabetes dapat dikurangi.



Pengobatan penyakit diabetes
Pemeriksaan laboratorium merupakan bagian penting dalam menanggulangi penyakit diabetes, baik untuk menemukan penyebabnya, diagnosis, pemantauan, maupun deteksi dini adanya komplikasi. Pemeriksaan kadar gula darah di laboratorium yang biasa dilakukan selama ini, umumnya hanya mencerminkan kadar gula darah sesaat, karena hasil pengukuran sangat dipengaruhi oleh faktor makanan, olah raga, emosi, maupun oleh obat-obat yang diminum.
Penyebab Penyakit diabetes dapat kita hindari atau kurangi dengan cara mengetahui kadar glukosa darah dalam tubuh kita. Lakukan pemeriksaan penyakit diabetes secara rutin karena peningkatan dan penurunan kadar gula dalam darah selalu berubah.

  • Perawatan Penyakit Diabetes Tipe 1
Karena pankreas kesulitan menghasilkan insulin, maka insulin harus ditambahkan setiap hari. Umumnya dengan cara suntikan insulin. Perawatan dengan memperbaiki fungsi kerja pankreas. Jika pankreas bisa kembali berfungsi dengan normal, maka pankreas bisa memenuhi kebutuhan insulin yang dibutuhkan tubuh.

  • Perawatan Penyakit Diabetes Tipe 2
Perawatan penyakit diabetes tipe 2 adalah dengan memaksa fungsi kerja pankreas sehingga dapat menghasilkan insulin lebih banyak. Jika pankreas bisa menghasilkan insulin yang dibutuhkan tubuh, maka kadar gula dalam darah akan menurun karena dapat diubah menjadi energi.
Cara terbaik untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 2 adalah dengan diet yang baik untuk mengurangi berat badan dan kadar gula, disertai dengan gerak badan yang sesuai.



Pencegahan Komplikasi Diabetes dan Tip-tipsnya

Komplikasi diabetes adalah masalah-maslah kesehatan yang disebabkan oleh diabetes. Diabetes disebabkan karena kadar atau tingkat gula darah lebih tinggi dari keadaan normal. Kondisi dimana kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama dapat merusak pembuluh darah dan sistem syaraf. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat menyebabkan masalah-masalah di berbagai bagian tubuh. Berikut adalah artikel berisi tentang komplikasi-komplikasi diabetes dan bagaimana tips pencegahannya.

Komplikasi pada Kerusakan Syaraf (diabetic neuropathy)

Komplikasi kerusakan syaraf pada diabetes yang biasanya disebut dengan diabetic neuropathy yang membuat fungsi sistem dalam dalam mengirim pesan-pesan ke otak atau ke bagian tubuh lainnya mengalami kesulitan. Jika penderita kencing manis mempunyai komplikasi kerusakan syaraf, mungkin mereka akan merasakan kehilangan rasa pada bagian tubuhnya atau merasakan sakit yang menggelikan.
Diabetic Neuropathy sering sekali mempengaruhi bagian tungkai dan kaki dan mungkin penderita tidak bisa merasakan adanya lepuh atau luka pada kakinya. Kemudian luka dapat menjadi infektif dan pada beberapa kasus yang serius mungkin harus dilakukan amputasi. Penderita dengan diabetic neuropathy masih bisa berjalan dengan kakinya yang telah mengalami kerusakan sendi dan tulangnya. Hal ini dapat menimbulkan kondisi yang disebut dengan kaki Charcot (Charcot foot) yang menyebabkan kaki terluka dan menjadi berubah bentuk.
Akan tetapi kebanyakan masalah seperti diatas dapat dicegah dan dihindari. (Charcot adalah salah satu penyakit neuron motorik yang progresif). Perlu dilakukan pemeriksaan tiap hari terhadap kaki penderita, jika dalam pemeriksaan terdapat adanya bengkak, warna kemerahan dan terasa panas segera hubungi dokter. Gejala-gejala tersebut bisa jadi merupakan tanda dari Charcot Foot. Sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter sedikitnya satu tahun sekali.

Berikut tanda-tanda bahaya dari kerusakan syaraf

Berikut tanda-tanda bahaya dari kerusakan syaraf dan hubungi dokter secepatnya jika terjadi tanda-tanda bahaya dibawah ini:
    * Mati Rasa
    * Rasa sakit yang tajam atau menggelitik
    * Muncul luka pada kaki
    * Otot menjadi lemah
    * Rasa panas seperti tebakar
    * Tidak mampu ereksi pada pria



Komplikasi pada Mata (diabetic retinopathy)

Retina merupakan bagian mata yang sensitif terhadap sinar dan membantu penglihatan seseorang. Diabetes atau kencing manis dapat merusak dan memperlemah pembuluh darah kecil pada retina. Kerusakan jenis ini disebut dengan diabetic retinopathy.

Pada saat pembuluh darah melemah, mereka dapat mengeluarkan cairan dan menyebabkan timbulnya bengkak pada mata yang mengaburkan penglihatan. Jika kondisi retinopathy menjadi lebih parah dapat berakibat pada kebutaan.

Pembedahan dengan laser sering digunakan untuk mengobati atau memperlambat komplikasi retinopathy, khusunya jika gangguan ini ditemukan lebih awal. Penderita diabetes sebaiknya melakukan pemeriksaan rutin mata sekali dalam satu tahun.

Tanda-tanda bahaya komplikasi pada mata
    * Penglihatan kabur selama lebih dari 2 hari.
    * Dengan tiba-tiba tidak bisa melihat dengan satu atau kedua mata.
    * Terdapat titik hitam, sarang laba-laba atau sorotan cahaya pada penglihatan.
    * Kemerah-merahan pada mata
    * Nyeri atau terasa ada tekanan pada mata.


Komplikasi pada Ginjal (diabetic nephropathy)

Diabetes dapat juga menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di ginjal sehingga berakibat ginjal tidak mampu menyaring sampah untuk dikeluarkan. Komplikasi kerusakan ini disebut dengan diabetic nephropathy. Seorang penderita diabetes dengan komplikasi ini secepatnya memerlukan tindakan dialisis atau transplantasi ginjal. Dialisis (dialysis) adalah suatu pengobatan yang ditujukan untuk mengeluarkan kotoran-kotoran atau sampah dari darah yang biasanya fungsi ini dikerjakan oleh ginjal.
Resiko timbulnya diabetic nephropathy akan semakin tinggi atau meningkat jika terdapat dua kondisi yaitu kondisi diabetes dan tekanan darah tinggi secara bersamaan. Jadi merupakan hal penting untuk mengontrol kedua kondisi tersebut dengan baik.
Tanda awal timbulnya diabetic nephropathy biasanya ditandai adanya protein di dalam urin atau dalam urin terdapat kandungan protein (protein uri). Jadi, sebaiknya lakukan pemeriksaan tahunan mengenai kondisi ini. Hubungi dokter dan dokter akan memberikan pengobatan untuk menjaga dan melindungi ginjal dari kerusakan.

Komplikasi pada penyakit jantung dan stroke

Penderita diabetes mempunyai resiko yang lebih besar timbulnya penyakit jantung dan stroke, resiko bahkan lebih besar bagi orang-orang yang menderita diabetes dan perokok, mepunyai tekanan darah tinggi, overweight atau kelebihan berat badan dan mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Penyakit jantung sangat mudah untuk diobati saat penyakit itu ditemukan lebih awal. Pemeriksaan ke dokter ahli adalah sangat penting karena dokter akan melakukan test dan pemeriksaan untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit jantung secara dini.
Pengendalian kadar kolesterol agar mendekati normal adalah juga hal yang direkomendsikan pada penderita diabetes karena kolesterol merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya penyakit jantung dan stroke. Jika penderita mempunyai tingkat kolesterol tinggi, hubungi dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, lakukan perubahan-perubahan gaya hidup seperti diet sehat, olahraga teratur untuk mengontrol kadar kolesterol agar dalam batas normal atau mendekati normal.
           

Tips untuk mencegah atau memperlambat komplikasi diabetes

Untuk mencegah timbulnya komplikasi-komplikasi diatas, pertahankan kadar gula darah hingga mendekati normal dan ikutilah saran anjuran dokter. Berikut beberapa tipsnya:
    * Diet dan makan makanan sehat dengan bervariasi, hindari makanan yang tinggi lemak dan gula.
    * Pertahankan berat badan ideal. Jika penderita overweight atau kelebihan berat badan, maka kurangi berat badan anda (baca mengurangi faktor resiko overweight).
    * Pertahankan dan kontrol kadar kolesterol agar mendekati normal. (Baca mengurangi faktor resiko kolesterol)
    * Pertahankan tekanan darah agar tetap normal dan mendekati normal. (baca mengurangi faktor resiko tekanan darah tinggi)
    * Lakukan olahraga teratur
    * Hentikan merokok ( baca mengurangi faktor resiko merokok)
    * Periksa ke dokter secara rutin, bahkan saat kondisi anda baik. Dokter akan melakukan pemeriksaan akan adanya tanda-tanda komplikasi dengan lebih dini.
    * Segera hubungi dokter jika ada tanda-tanda bahaya seperti diatas.


Diabetes terus meningkat tiap tahunnya, oleh sebab itu diperlukan lima pilar tata laksana untuk menekan angka penderita diabetes, kata Kepala Bagian Patologi Klinik dari Rumah Sakit Dharmais-Jakarta, Dr. Agus S. Kosasih, SpPK.

Pilar pertama, ujarnya, adalah Edukasi. "Edukasi adalah hal pertama yang harus disadari masyarakat, ini menjadi penting karena penderita diabetes harus terus kooperatif dengan dirinya sendiri," papar Agus.

Pilar kedua, adalah terapi nutrisi atau pengaturan makan yang harus diperhatikan penderita diabetes karena penderita diabetes perlu terus mengontrol kadar gula darah agar tetap normal.

"Aktifitas fisik berupa olah raga juga sangat penting, karena ini dapat membantu meningkatkan produksi hormon insulin, yang membantu menjaga kadar gula darah dalam kisaran normal," papar Agus yang menjelaskan pilar ketiga.

Selanjutnya adalah adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengontrol gula darah. Obat-obatan ini biasanya berupa asupan insulin bagi tubuh, sehingga kadar gula darah tetap berada dalam batas normal.

Pilar kelima adalah monitoring gula darah. Monitoring gula darah ini menjadi sangat penting agar pasien tahu bagaimana perkembangan gula darahnya, kata Agus.

"Sebaiknya pasien melakukan monitoring gula darah setiap hari secara mandiri menggunakan glukosa meter, sehingga pasien diabetes dapat mengelola tren gula darahnya setiap hari," demikian Agus.