Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes
berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan
beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan
pembuluh darah.(1)
Penyebab utama seseorang mengalami gagal ginjal terminal
hingga membutuhkan pelayanan hemodialisis adalah akibat penyakit
diabetes dan hipertensi. Jika penyakit diabetes dan hipertensi dikontrol
dengan baik melalui pengobatan teratur maka gagal ginjal terminal akan
dapat dicegah sedini mungkin atau bisa diperlambat. Gagal ginjal
terminal dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan
pembuluh darah yang sering menyebabkan kematian. Pada diabetes, terjadi
gangguan pengolahan glukosa darah oleh tubuh, yang menyebabkan kerusakan
pada ginjal dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal terminal
disebut dengan nefropati diabetik.(2 )
Gagal ginjal terminal sering ditemukan, menurut data dari
The United States Renal Data System (USRDS) tahun 2009 prevalensinya
sekitar 10-13 %. Di Amerika Serikat jumlahnya mencapai 25 juta orang, di
Indonesia diperkirakan 12,5 % atau sekitar 18 juta orang.(3) Sama
dengan diabetes insidennya meningkat yaitu 20 juta orang di Amerika
Serikat dan menurut WHO tahun 2005 prevalensi Diabetes Melitus tipe2
mencapai 300 juta diseluruh dunia.(2) Diabetes sering berhubungan dengan
gagal ginjal terminal, diperkirakan 45 % pasien yang menjalankan
hemodialisis adalah pasien diabetes sebagai penyebab gagal ginjal
terminal, dan pasien gagal ginjal terminal 15-23 % adalah pasien
diabetes.(4.5)
Hubungan diabetes melitus dengan kelainan ginjal sudah lama
diketahui. Kimmelstiel dan Wilson tahun 1936 pertama kali melaporkan
glomerulosklerosis noduler yang khas untuk diabetes melitus.(6 )
Nefropati diabetik akan menyebabkan gagal ginjal terminal
di Amerika Serikat, Jepang dan Eropah. Menurut The United States Renal
Data System (USRDS) tahun 2001 dari 82.692 pasien yang menjalani terapi
hemodialisis atau tranplantasi ginjal, 46,2% pasien dengan diabetes.(7)
Pasien diabetes yang mengalami gagal ginjal terminal harus
menjalani terapi pengganti ginjal yaitu berupa dialisis (hemodialisis
dan peritoneal dialisis) atau tranplantasi ginjal. Pasien diabetes yang
menjalani hemodialisis merupakan kelompok besar pasien gagal ginjal
terminal di negara berkembang, yang meningkatkan angka kesakitan dan
angka kematian dibandingkan pasien hemodialisis yang nondiabetes. Usia
lanjut pada saat awal hemodialisis dan sering disertai penyakit mikro
dan makrovaskular meningkatkan komplikasi dan kematian pada saat
hemodialisis.(8)
Penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan
hemodialisis harus agresif, cepat dan multidisiplin dan sering
melibatkan banyak ahli. Penyakit vaskuler perifer, kardiovaskuler,
serebrovaskular, dan komplikasi yang berhubungan dengan hemodialisis
menambah angka kesakitan dan angka kematian pasien diabetes yang
menjalankan hemodialisis. Tinjauan kepustakaan ini dibuat agar
penatalaksanaan pasien diabetes yang menjalankan hemodialisis lebih
optimal sehingga angka kematian dapat diturunkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar